![]()

Berbasis Kondisi Fisik Wilayah, Alih Fungsi Lahan, dan Tekanan Aktivitas Manusia
Disusun oleh: Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa
ABSTRAK
Garut, Medialibas. Com, – Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, merupakan wilayah dataran tinggi dengan dominasi lereng curam, jenis tanah vulkanik muda, dan curah hujan tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini mengalami tekanan lingkungan akibat pembukaan lahan, aktivitas galian, dan alih fungsi kawasan yang tidak terkendali. Kajian ini bertujuan menganalisis tingkat kerawanan bencana khususnya longsor, erosi, dan banjir bandang dengan pendekatan spasial dan lingkungan, serta menyusun peta kerawanan sebagai dasar mitigasi dan kebijakan.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasirwangi memiliki fungsi ekologis penting sebagai kawasan hulu dan daerah tangkapan air. Namun, meningkatnya aktivitas manusia tanpa kaidah konservasi telah memicu degradasi lingkungan yang signifikan. Bukti lapangan menunjukkan perubahan bentang alam yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
1.2 Tujuan Kajian
Mengidentifikasi faktor penyebab kerawanan bencana
Menentukan tingkat kerawanan wilayah
Menyusun peta kerawanan bencana
Memberikan rekomendasi mitigasi berbasis kebijakan
II. METODOLOGI KAJIAN
Kajian disusun menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan spasial, meliputi:
Interpretasi visual lapangan & dokumentasi masyarakat
Analisis literatur (geologi, hidrologi, tata ruang)
Overlay konseptual variabel kerawanan bencana
Variabel utama:
- Kemiringan lereng
- Jenis tanah
- Curah hujan
- Tutupan lahan & aktivitas manusia
III. KONDISI FISIK WILAYAH PASIRWANGI
3.1 Topografi & Lereng
Didominasi lereng 15β40% (curamβsangat curam)
Sangat sensitif terhadap perubahan penutup lahan
3.2 Jenis Tanah
Tanah andosol & latosol vulkanik
Struktur remah, mudah jenuh air, rawan longsor
3.3 Curah Hujan
Curah hujan tahunan tinggi (>2.500 mm/tahun)
Intensitas hujan ekstrem memicu pergerakan tanah
IV. ALIH FUNGSI LAHAN & AKTIVITAS MANUSIA
Temuan lapangan menunjukkan:
Pembukaan lereng tanpa terasering
Galian tanah tanpa penguatan tebing
Hilangnya vegetasi penahan tanah
Tidak adanya sistem drainase teknis
Aktivitas ini mempercepat degradasi lereng dan meningkatkan tekanan hidrologis.
V. ANALISIS KERAWANAN BENCANA
5.1 Jenis Ancaman Bencana
Longsor dangkal & longsor lereng
Erosi berat dan sedimentasi sungai
Banjir bandang di wilayah hilir
5.2 Tingkat Kerawanan
Tingkat Karakteristik
Rendah Lereng landai, vegetasi rapat
Sedang Lereng sedang, lahan pertanian
Tinggi Lereng curam, lahan terbuka/galian
VI. PETA KERAWANAN BENCANA (KONSEP SPASIAL)
Konsep Peta Kerawanan Pasirwangi
Peta disusun melalui overlay variabel berikut:
- Kemiringan Lereng
Landai (Hijau)
Curam (Kuning)
Sangat Curam (Merah)
- Tutupan Lahan
Hutan (aman)
Pertanian terbuka
Lahan galian/terbuka (rawan tinggi)
- Curah Hujan
Intensitas tinggi β faktor pengali risiko
π Zona Merah (Kerawanan Tinggi):
Wilayah lereng terbuka, area galian, dan kawasan tanpa vegetasi permanen.
π Zona Kuning (Kerawanan Sedang):
Pertanian lereng tanpa konservasi memadai.
VII. DASAR HUKUM
UU No. 32 Tahun 2009 β Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan Hidup
UU No. 24 Tahun 2007 β Penanggulangan Bencana
UU No. 26 Tahun 2007 β Penataan Ruang
PP No. 22 Tahun 2021 β PPLH
RTRW Kabupaten Garut β Kawasan rawan bencana & lindung
VIII. REKOMENDASI MITIGASI
8.1 Jangka Pendek
Penghentian aktivitas galian di lereng rawan
Penilaian teknis BPBD & DLH
Penutupan sementara area berisiko tinggi
8.2 Jangka Menengah
Rehabilitasi lahan & revegetasi
Penataan ulang penggunaan lahan
Sistem peringatan dini longsor
8.3 Jangka Panjang
Penegakan RTRW
Pengawasan ketat kawasan hulu
Edukasi masyarakat berbasis mitigasi
IX. KESIMPULAN
Kecamatan Pasirwangi memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Tanpa intervensi kebijakan dan penegakan hukum, wilayah ini berpotensi menjadi lokasi bencana ekologis serius. Peta kerawanan dan kajian ini menjadi instrumen penting pencegahan.
βοΈ Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa
Garut, 2026 (red)
