![]()
Oleh: Tedi Sutardi (Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa)

Pendahuluan
Indonesia adalah negara agraris dengan ketergantungan tinggi pada sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan. Namun, dalam dua dekade terakhir, tekanan alih fungsi lahan dan perubahan iklim semakin nyata dan terukur dampaknya. Tulisan ini menyajikan pendekatan perhitungan kalkulus sederhana berbasis asumsi makro untuk melihat bagaimana kehilangan lahan dan penurunan produktivitas memengaruhi pendapatan nasional pertanian serta kesejahteraan rakyat per individu. ( 28 Januari 2026 )
Asumsi Dasar Perhitungan
Pertumbuhan penduduk Indonesia: 1,2% per tahun
Luas lahan pertanian awal: 60 juta hektar
Produktivitas pertanian: 5 ton/hektar/tahun
Harga hasil pertanian: Rp 5.000/kg
Alih fungsi lahan: 1% per tahun
Dampak perubahan iklim: penurunan produktivitas 10% per tahun
Asumsi ini bukan data absolut, melainkan model ilustratif untuk melihat kecenderungan struktural ekonomi.
- Pendapatan Pertanian Nasional Awal
60.000.000 \text{ ha} \times 5 \text{ ton/ha} \times 1.000 \text{ kg} \times Rp 5.000
Pendapatan pertanian awal:
Rp 1.500 triliun per tahun
- Dampak Alih Fungsi Lahan (Turunan Luas Lahan)
Alih fungsi lahan 1% per tahun berarti:
Lahan hilang:
600.000 hektar/tahun
Kehilangan pendapatan:
600.000 \times 5 \times 1.000 \times 5.000 = Rp 15 triliun/tahun
Secara kalkulus, ini dapat dipandang sebagai:
\frac{dP}{dL} < 0
Artinya, setiap penurunan luas lahan (L) langsung menurunkan pendapatan (P).
- Dampak Perubahan Iklim (Turunan Produktivitas)
Penurunan produktivitas sebesar 10% per tahun:
10\% \times Rp 1.500 \text{ triliun} = Rp 150 \text{ triliun/tahun}
Ini menunjukkan:
\frac{dP}{dY} < 0
Di mana Y adalah hasil panen per hektar yang sensitif terhadap iklim.
- Pendapatan Pertanian Akhir Nasional
Komponen Nilai
Pendapatan awal Rp 1.500 triliun
Kehilangan akibat alih fungsi lahan – Rp 15 triliun
Kehilangan akibat perubahan iklim – Rp 150 triliun
Pendapatan akhir Rp 1.335 triliun/tahun
Total penurunan: 11% per tahun
Studi Banding Pendapatan Pertanian Nasional
Tahun Luas Lahan (ha) Pendapatan (Rp triliun/tahun)
2020 60.000.000 1.500
2025 58.000.000 1.335
2030 56.000.000 1.170
Tren ini menunjukkan kurva menurun eksponensial, bukan linier, jika tidak dikendalikan.
Dampak pada Ekonomi Rakyat (Makro ke Mikro)
A. Dampak pada Pendapatan Per Petani
Asumsi:
Jumlah petani aktif: ± 40 juta orang
Pendapatan pertanian nasional dibagi rata (pendekatan kasar)
Pendapatan rata-rata petani per tahun:
Rp 1.500 \text{ triliun} \div 40 \text{ juta} = Rp 37,5 juta/tahun
≈ Rp 3,1 juta/bulan
Setelah penurunan 11%:
Rp 3,1 juta \times 89\% = Rp 2,76 juta/bulan
➡ Turun ± Rp 340.000 per bulan per orang
B. Klasifikasi Dampak Kesejahteraan Per Orang
Kelas Kesejahteraan Pendapatan/Bulan Dampak
Rentan miskin < Rp 2 juta Masuk kategori miskin ekstrem Miskin Rp 2–3 juta Turun daya beli pangan Menengah bawah Rp 3–5 juta Tertekan inflasi pangan Menengah > Rp 5 juta Penurunan tabungan
C. Dampak Riil Kehidupan Sehari-hari
- Pangan
Konsumsi protein (telur, ikan, daging) berkurang
Risiko stunting dan gizi buruk meningkat
- Kesehatan
Pengeluaran kesehatan ditunda
Ketergantungan pada layanan murah dan darurat
- Pendidikan
Anak putus sekolah meningkat
Biaya transport dan perlengkapan tidak terpenuhi
- Pekerjaan
Urbanisasi paksa
Bertambahnya pekerja informal berupah rendah
Contoh Konkret Dampak Individu
Pendapatan petani:
dari Rp 5 juta → Rp 4,45 juta/bulan
Jika harga pangan naik 10%:
Beban hidup naik
Sisa pendapatan riil turun lebih dalam (±15–18%)
Secara ekonomi, ini disebut double loss:
pendapatan turun, biaya hidup naik.
Upaya Mitigasi untuk Menyelamatkan Ekonomi Kerakyatan
- Pengendalian Alih Fungsi Lahan
Perlindungan lahan pangan berkelanjutan (LP2B)
Penegakan tata ruang
- Adaptasi Perubahan Iklim
Varietas tahan iklim
Manajemen air dan tanah
- Peningkatan Produktivitas
Teknologi tepat guna
Pertanian regeneratif dan organik
- Diversifikasi Ekonomi Desa
Agroindustri
Ekowisata berbasis komunitas
- Peran Negara
Subsidi tepat sasaran
Jaminan harga hasil panen
Perlindungan sosial petani
Kesimpulan
Alih fungsi lahan dan perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman langsung terhadap kesejahteraan rakyat. Dengan kehilangan pendapatan pertanian hingga 11% per tahun, jutaan petani terdorong menuju kerentanan struktural.
Tanpa koreksi kebijakan, kurva kesejahteraan rakyat akan terus menurun. Namun dengan keberpihakan ekologis dan ekonomi, pertanian justru dapat menjadi fondasi keadilan sosial dan ketahanan nasional. (Red)
