![]()

Garut Medialibas. Com, _ , 8 Februari 2026 — Forum Eteologi kembali menggelar diskusi ke-4 pada Sabtu (8/2/2026) dengan fokus utama pengelolaan sampah berbasis kesadaran budaya dan lingkungan hidup. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut, serta diikuti oleh pegiat lingkungan, akademisi, komunitas warga, dan pemerhati kebijakan publik.
Diskusi berlangsung dinamis dengan menempatkan sampah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan jiwa budaya masyarakat terhadap lingkungannya. Forum Eteologi menegaskan bahwa krisis sampah hari ini lahir dari putusnya relasi etis antara manusia, alam, dan nilai-nilai lokal yang selama ini menjunjung harmoni dengan lingkungan.
Sampah dan Jiwa Budaya Lingkungan
Dalam pemaparannya, pemateri dari DLH Kabupaten Garut menyampaikan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama penyelesaian persoalan sampah. Budaya “buang–angkut–habis” dinilai sudah tidak relevan dan justru memperparah tekanan terhadap TPA, sungai, serta lahan produktif.
Forum Eteologi menyoroti pentingnya menghidupkan kembali jiwa budaya lingkungan, yakni kesadaran bahwa sampah adalah bagian dari siklus kehidupan yang harus dikelola, bukan disingkirkan. Nilai gotong royong, tanggung jawab kolektif, dan penghormatan terhadap alam disebut sebagai fondasi etis pengelolaan sampah berkelanjutan.
Komposting sebagai Solusi Nyata
Salah satu materi utama dalam diskusi adalah proses komposting sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang paling realistis diterapkan di tingkat rumah tangga, komunitas, hingga desa.
Pemateri DLH menjelaskan bahwa komposting merupakan proses penguraian bahan organik seperti sisa makanan, daun, dan limbah dapur oleh mikroorganisme (bakteri dan jamur) dalam kondisi terkontrol. Proses ini menghasilkan kompos, yaitu pupuk organik yang aman bagi lingkungan.
Tahapan utama komposting meliputi:
- Pemilahan sampah organik dari sumbernya
- Pencacahan bahan untuk mempercepat penguraian
- Pengaturan kelembapan dan aerasi agar mikroorganisme bekerja optimal
- Proses dekomposisi selama 30–60 hari
- Pematangan kompos sebelum diaplikasikan ke tanah
Kandungan Hara dan Manfaat Kompos
Kompos yang dihasilkan mengandung unsur hara penting bagi tanaman, antara lain:
Nitrogen (N): mendukung pertumbuhan daun dan batang
Fosfor (P): memperkuat akar dan pembentukan bunga/buah
Kalium (K): meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit
Bahan organik: memperbaiki struktur tanah dan daya serap air
Selain bermanfaat bagi tanaman, kompos juga berperan penting dalam kehidupan lingkungan, seperti:
Memulihkan kesuburan tanah yang rusak
Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia
Menekan pencemaran air dan tanah
Mengurangi emisi gas rumah kaca dari sampah organik
Penutup
Diskusi ke-4 Forum Eteologi menegaskan bahwa pengelolaan sampah adalah kerja etika, budaya, dan ilmu pengetahuan sekaligus. Komposting bukan hanya solusi teknis, tetapi juga simbol perubahan cara pandang manusia terhadap alam.
Forum Eteologi berharap hasil diskusi ini dapat menjadi pemantik gerakan nyata di masyarakat, mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang adil, berkelanjutan, dan berakar pada nilai budaya lingkungan. (Red)
