![]()

Garut, Media libas. Com, – Di Kabupaten Garut, bencana bukan lagi peringatan—ia telah menjadi hukuman yang berulang. Longsor, banjir, kerusakan lahan, dan krisis daya dukung lingkungan kini menjalar hampir ke setiap kecamatan. Ini bukan sekadar fenomena alam. Ini adalah akumulasi dari keputusan manusia yang salah, pembiaran yang disengaja, dan kesadaran yang ditunda terlalu lama. 19 april 2026
Ini bukan lagi soal kelalaian. Ini soal kegagalan sistemik.
Pemerintah tidak bisa lagi bersembunyi di balik narasi “bencana alam”. Ketika tata ruang dilanggar, ketika izin diberikan di kawasan rawan, ketika pengawasan melemah—itu bukan takdir, itu kebijakan. Setiap tanda tangan yang mengabaikan daya dukung lingkungan adalah potensi bencana yang sedang ditanam.
Perusahaan pun tidak bisa mencuci tangan dengan dalih investasi dan pertumbuhan ekonomi. Keuntungan yang diambil dari tanah yang dipaksa, dari hutan yang ditebang, dari air yang dialihkan tanpa keseimbangan—pada akhirnya akan kembali dalam bentuk kerugian yang jauh lebih besar: kerusakan permanen dan korban jiwa. Tidak ada profit yang sah jika dibangun di atas kehancuran ekosistem.
LSM dan pemerhati lingkungan juga tidak kebal kritik. Terlalu sering energi dihabiskan pada isu yang terlihat, tetapi tidak menyentuh akar. Terlalu banyak suara keras pada hal kecil, namun melemah ketika berhadapan dengan kepentingan besar. Diam dalam kondisi ini bukan strategi—itu adalah kompromi yang mahal.
Dan masyarakat?
Tidak bisa lagi hanya menjadi korban. Setiap pembiaran terhadap alih fungsi lahan ilegal, setiap praktik yang merusak lingkungan demi kebutuhan jangka pendek, adalah bagian dari mata rantai kehancuran itu sendiri. Kesadaran bukan pilihan moral tambahan—ia adalah kebutuhan untuk bertahan hidup.
Tedi Sutardi menyampaikan peringatan yang tidak bisa diabaikan:
bahwa kesadaran seringkali datang terlambat—ketika bencana sudah menelan korban, bahkan dari mereka yang terlibat dalam kerusakan itu sendiri. Ini adalah ironi paling kejam: manusia baru belajar ketika kehilangan.
Hari ini, Garut sedang berdiri di titik kritis.
Jika semua pihak—pemerintah, perusahaan, LSM, dan masyarakat—masih berjalan sendiri-sendiri, maka arah yang dituju hanya satu: krisis yang lebih dalam dan lebih luas.
Yang dibutuhkan bukan lagi wacana.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menegakkan aturan tanpa kompromi, transparansi dalam setiap kebijakan, serta keberpihakan mutlak pada keberlanjutan lingkungan.
Karena jika tidak, maka yang akan datang bukan lagi sekadar bencana—
melainkan runtuhnya masa depan itu sendiri. (Red)
