![]()
Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa (LIBAS) — Januari 2026
Garut, Medialibas. Com

1. Gambaran Iklim dan Curah Hujan di Garut
Berdasarkan data klimatologi wilayah Kabupaten Garut yang dirangkum dari sumber BMKG dan lembaga statistik meteorologi, curah hujan tahunan di Garut tergolong tinggi:
- Curah hujan rata-rata tahunan di Kabupaten Garut mencapai sekitar ~2.589 mm/tahun, dengan pembagian musim panjang: 9 bulan basah dan 3 bulan relatif kering. Wilayah pegunungan di selatan dan tengah bisa lebih tinggi lagi (3.500–4.000 mm/tahun).
- Bulan puncak hujan umumnya pada Desember–Januari, yang sering kali mencatat intensitas hujan signifikan dan frekuensi hari hujan tinggi, serta risiko bencana meningkat.
Data historis dari pengamatan satelit TRMM menunjukkan bahwa intensitas curah hujan harian maksimum di beberapa grid wilayah Garut sering mencapai >100 mm/hari, yang merupakan tanda klimatologi ekstrem pada puncak musim hujan.
Data prakiraan BMKG terbaru juga menunjukkan bahwa Pakenjeng dan kecamatan selatan Garut sering diprakirakan dalam fase hujan ringan sampai sedang dengan kelembapan tinggi (80–97%), terutama di puncak musim hujan.
2. Analisis Risiko Bencana — Kerangka Kuantitatif
2.1 Model Hidrologi & Runoff
Kita manfaatkan model limpasan dasar:Q(t) = R(t) - I \cdot H(t)
Dimana:
- R(t) = curah hujan pada waktu t (mm),
- I = infiltrasi efektif tanah,
- H(t) = fraksi tutupan hutan (0–1).
Interpretasi: Jika tutupan hutan menurun (penurunan H(t)), maka air tidak terserap dan limpasan permukaan Q(t) naik signifikan—berdampak langsung pada risiko banjir dan banjir bandang.
2.2 Lereng Gunung & Faktor Geomorfologi
Kecamatan Pakenjeng berada pada wilayah topografi berbukit pegunungan. Lereng yang curam dan tanah vulkanik mudah jenuh air meningkatkan indeksi risiko longsor:L = \frac{R \cdot S}{C}
- R = curah hujan intensitas tinggi,
- S = kemiringan lereng,
- C = kohesi tanah (turun saat vegetasi hilang).
Tanah andosol yang dominan di selatan Garut cenderung kehilangan kohesi bila jenuh air, sehingga tanpa vegetasi kuat → risiko longsor meningkat tajam.
3. Prioritas Dampak Bencana di Pakenjeng
Berdasarkan kerangka kuantitatif dan data cuaca BMKG, berikut urutan prioritas dampak bencana di Pakenjeng:
3.1 Longsor Lereng
- Curah hujan tinggi pada puncak musim hujan meningkatkan saturasi tanah.
- Lereng curam memicu longsor, terutama di daerah dengan vegetasi rendah.
- Kondisi deforestasi mempercepat proses disintegrasi tanah dan ambrolan massa tanah.
Prioritas: sangat tinggi.
3.2 Banjir Bandang & Genangan Lokal
- Limpasan permukaan meningkat saat hujan intens.
- Sungai dan saluran drainase di lereng bawah cepat meluap.
- Perubahan alih fungsi lahan mempersempit area resapan → debit puncak meningkat.
Prioritas: tinggi, terutama di dataran rendah Pakenjeng.
3.3 Tanah Longsor Susulan & Erosi
Selain longsor besar, erosi permukaan terakumulasi dalam jangka panjang dari alih fungsi hutan:
- Pengikisan tanah mengurangi kualitas tanah agraris.
- Material lereng luruh masuk sungai → mempercepat pendangkalan sungai.
Prioritas: menengah–tinggi.
4. Dampak Curah Hujan Ekstrem
Beberapa studi regional (meskipun tidak spesifik Pakenjeng) menunjukkan bahwa intensitas hujan ekstrem (> 50–100 mm/hari) merupakan salah satu pemicu longsor signifikan di berbagai kecamatan di Garut, terutama di area dengan tutupan vegetasi rendah.
Selain itu, prakiraan cuaca BMKG di periode musim hujan memperlihatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi di wilayah selatan Garut termasuk Pakenjeng, yang signifikan memengaruhi potensi banjir dan longsor.
5. Rekomendasi Mitigasi (Pendekatan Sains + Kebijakan)
Berdasarkan temuan data di atas, prioritas rekomendasi adalah:
- Moratorium alih fungsi lahan di lereng curam (>25°).
- Program reforestasi di zona rawan longsor dan DAS (Daerah Aliran Sungai).
- Pembangunan infrastruktur penahan erosi dan sumur resapan di zona kritis.
- Sistem peringatan dini berbasis curah hujan (BMKG) dan pemantauan tanah.
- Pemetaan risiko berbasis data curah hujan historis dan topografi untuk perencanaan ruang.
6. Penutup
Data BMKG dan analisis klimatologis menunjukkan bahwa wilayah Pakenjeng memiliki risiko bencana hidrometeorologi yang tinggi terutama selama musim hujan. Alih fungsi lahan tanpa kajian ilmiah akan mempercepat akselerasi banjir dan longsor.
Manajemen risiko berbasis data harus menjadi landasan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Pakenjeng. (Red)
