![]()

Garut, Medialinas. Com,— Pemahaman tentang konsep kalifah dalam teologi Islam menjadi tema utama dalam kegiatan Forum Eteologi yang diselenggarakan di kawasan RTH Kehati Copong. Kegiatan ini menghadirkan diskusi keagamaan dan refleksi sosial mengenai tanggung jawab manusia sebagai pemimpin sekaligus penjaga bumi menurut ajaran Islam.(15 Februari 2026)
Forum yang diinisiasi oleh Forum Eteologi tersebut dihadiri tokoh masyarakat, aktivis lingkungan, akademisi, serta peserta dari berbagai kalangan di wilayah Kabupaten Garut. Diskusi menekankan bahwa konsep kalifah bukan sekadar simbol kepemimpinan politik, tetapi memiliki dimensi spiritual, moral, dan ekologis.
Kalifah sebagai Amanah Ilahiah
Dalam pemaparan forum, kalifah dipahami sebagai wakil Allah di bumi yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial. Manusia, sebagai kalifah, dituntut mengelola sumber daya secara adil serta menghindari kerusakan lingkungan.
Peserta forum menegaskan bahwa makna kalifah mencakup beberapa aspek teologis utama, yakni:
Kalifah sebagai wakil Allah yang menjaga ciptaan.
Kalifah sebagai pemimpin umat yang membimbing menuju kebaikan.
Kalifah sebagai pengemban amanah dalam pengelolaan kehidupan dan sumber daya.
Kalifah sebagai refleksi nilai-nilai ketuhanan seperti keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang dalam tindakan sosial.
Prinsip Teologi Kepemimpinan Islam
Diskusi juga menyoroti empat prinsip utama yang harus melekat pada seorang kalifah:
- Tauhid, yakni keyakinan penuh pada keesaan Allah sebagai dasar moral kepemimpinan.
- Keadilan, sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan publik.
- Kebijaksanaan, dalam mengelola konflik dan pembangunan.
- Amanah, yaitu tanggung jawab moral terhadap rakyat dan alam.
Menurut narasumber, konsep ini relevan dengan kondisi sosial modern, terutama dalam menghadapi krisis lingkungan dan ketimpangan pembangunan. Kepemimpinan yang berlandaskan teologi kalifah dinilai mampu menjadi pendekatan etis dalam pembangunan berkelanjutan.
Teologi dan Kesadaran Lingkungan
Pemilihan ruang terbuka hijau sebagai lokasi kegiatan dinilai simbolis. RTH Kehati Copong dianggap merepresentasikan hubungan antara iman dan tanggung jawab ekologis, di mana manusia sebagai kalifah wajib menjaga keberlanjutan alam.
Forum ditutup dengan seruan agar nilai-nilai teologi tidak berhenti pada wacana, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan nyata dalam kebijakan sosial, pelestarian lingkungan, dan pembangunan yang berkeadilan. (Red)
