![]()

Media libas. Com, – Di tengah krisis lingkungan global yang kian mengkhawatirkan—mulai dari kerusakan hutan, pencemaran air dan udara, hingga perubahan iklim—manusia dihadapkan pada pertanyaan mendasar: di mana posisi iman dan nilai spiritual dalam merespons kerusakan alam? Dari kegelisahan inilah eko-teologi hadir sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengintegrasikan ekologi dan teologi, menghubungkan relasi antara manusia, alam, dan Tuhan secara utuh dan bermakna.
Eko-teologi tidak hanya berbicara tentang lingkungan sebagai objek eksploitasi, tetapi memandang alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik, sakral, dan harus dijaga keberlanjutannya.
Hubungan Manusia dan Alam: Dari Dominasi ke Harmoni
Dalam perspektif eko-teologi, manusia bukanlah penguasa mutlak atas alam, melainkan penjaga (khalifah atau steward) yang diberi amanah untuk merawat dan melindungi bumi. Alam bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi ruang hidup bersama bagi seluruh makhluk.
Agama memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang ini. Ajaran keagamaan yang menekankan keseimbangan, keadilan, dan kasih sayang dapat menuntun manusia untuk hidup selaras dengan alam. Ketika manusia memutus hubungan etis dengan alam, kerusakan ekologis menjadi keniscayaan.
Teologi Alam: Melihat Tuhan dalam Ciptaan
Eko-teologi juga mengajak manusia untuk kembali merenungi alam sebagai tanda-tanda kehadiran Tuhan. Gunung, sungai, hutan, laut, dan seluruh ekosistem bukanlah entitas mati, melainkan manifestasi kebesaran dan kebijaksanaan Ilahi.
Dalam teologi alam, alam semesta menjadi “kitab terbuka” yang dapat dibaca manusia untuk mengenal Tuhan. Perusakan alam, dengan demikian, bukan hanya kejahatan ekologis, tetapi juga pelanggaran spiritual, karena mengabaikan nilai kesucian ciptaan.
Ekologi Spiritual: Spiritualitas yang Membumi
Eko-teologi menekankan pentingnya ekologi spiritual, yakni spiritualitas yang tidak terlepas dari realitas ekologis. Iman tidak cukup diwujudkan dalam ritual dan ibadah simbolik, tetapi harus tercermin dalam sikap hidup yang ramah lingkungan.
Kesadaran spiritual yang mendalam akan melahirkan perilaku ekologis: mengurangi konsumsi berlebihan, menjaga kebersihan lingkungan, melindungi sumber air, dan menolak praktik pembangunan yang merusak. Dalam konteks ini, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Tuhan.
Etika Lingkungan: Tanggung Jawab Moral Berbasis Iman
Salah satu kontribusi penting eko-teologi adalah penguatan etika lingkungan. Agama memberikan landasan moral untuk menilai tindakan manusia terhadap alam: mana yang adil, mana yang merusak, dan mana yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Etika lingkungan berbasis eko-teologi menolak eksploitasi berlebihan, keserakahan, dan ketimpangan ekologis yang merugikan generasi mendatang. Manusia dituntut untuk bertanggung jawab tidak hanya kepada sesama, tetapi juga kepada Tuhan dan seluruh ciptaan.
Penutup: Eko-Teologi sebagai Jalan Kesadaran Baru
Eko-teologi menawarkan paradigma baru dalam memandang krisis lingkungan: bahwa kerusakan alam bukan semata persoalan teknis atau ekonomi, melainkan krisis moral dan spiritual. Dengan mengintegrasikan iman dan ekologi, eko-teologi mendorong lahirnya kesadaran kolektif untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Melalui eko-teologi, manusia diajak kembali pada jati dirinya: makhluk beriman yang hidup berdampingan dengan alam, bukan di atasnya. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan, dan pada akhirnya, menjaga hubungan suci antara manusia, alam, dan Tuhan. (Tedie)
