![]()
oleh : Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa (LIBAS)

Pendahuluan
Garut, Medialibas. Com, _ Kabupaten Garut merupakan wilayah dengan karakter geografis yang kompleks, didominasi kawasan pegunungan, hutan lindung, dan daerah aliran sungai (DAS). Kondisi ini menjadikan Garut rentan terhadap dua jenis bencana utama yang bersifat musiman, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau serta banjir dan longsor pada musim hujan. (10 Februari 2026 )
Pemahaman terhadap pola waktu (temporal) bencana sangat penting agar pemerintah daerah dan masyarakat dapat menyusun strategi mitigasi berbasis perhitungan risiko, bukan hanya reaksi setelah bencana terjadi.
Pola Musiman Kebakaran Hutan di Kabupaten Garut
Berdasarkan karakter iklim regional Jawa Barat selatan, musim kemarau di Kabupaten Garut umumnya berlangsung Juni hingga September, dengan puncak kekeringan terjadi pada bulan Agustus. Pada periode ini, vegetasi mengering, kelembaban tanah menurun drastis, dan potensi kebakaran meningkat tajam.
Algoritma Perhitungan Risiko Kebakaran Hutan
- Musim Kemarau (Juni–September)
Bulan Kemungkinan Kebakaran
Juni 20%
Juli 40%
Agustus 60%
September 30%
Data ini menunjukkan peningkatan eksponensial risiko menuju Agustus, lalu menurun saat mulai terjadi transisi musim.
- Transisi ke Musim Hujan (Oktober)
Oktober: 10% kemungkinan kebakaran
Tanah mulai lembab, tetapi vegetasi bekas terbakar masih rapuh
- Musim Hujan (November–Februari)
Bulan Kebakaran Risiko Banjir & Longsor
November 5% Meningkat
Desember 2% Tinggi
Januari 1% Sangat Tinggi
Februari 1% Masih Tinggi
Pada fase ini, kebakaran hampir tidak terjadi, namun ancaman bencana hidrometeorologi meningkat signifikan.
Pendekatan Kalkulus dalam Perhitungan Risiko
Untuk memodelkan kemungkinan kebakaran hutan secara matematis, digunakan fungsi probabilitas sebagai berikut:
K(t) = 0,2e^{-(t-8)^2/4} + 0,1e^{-(t-11)^2/1}
dengan:
K(t) = kemungkinan kebakaran hutan
t = waktu (bulan), dengan:
t = 1 (Juni)
t = 2 (Juli)
t = 3 (Agustus)
… hingga t = 12 (Mei)
Fungsi ini merepresentasikan:
Puncak kekeringan dan kebakaran (kurva pertama)
Sisa risiko pasca-kemarau dan transisi musim (kurva kedua)
Hasil Perhitungan dan Analisis
🔥 Bulan dengan kemungkinan kebakaran tertinggi:
Agustus (t = 3) → K(3) ≈ 0,6 (60%)
🌊 Bulan dengan risiko banjir dan longsor tertinggi:
Januari (t = 8) → K(8) ≈ 0,01, namun curah hujan sangat tinggi dan tanah jenuh air
Artinya, penurunan risiko kebakaran justru berbanding terbalik dengan peningkatan risiko bencana lain, terutama longsor di wilayah perbukitan dan hulu DAS Garut.
Implikasi Kebijakan dan Mitigasi di Kabupaten Garut
- Musim Kemarau (Juni–September)
Larangan pembakaran lahan
Patroli hutan intensif (khususnya Agustus)
Pengawasan kawasan rawan (hutan lindung, perkebunan, semak belukar)
- Pasca-Kebakaran & Transisi Musim (Oktober)
Rehabilitasi lahan terbakar
Penanaman vegetasi penahan erosi
Pemetaan ulang daerah rawan longsor
- Musim Hujan (November–Februari)
Peringatan dini longsor dan banjir
Normalisasi saluran air dan DAS
Kesiapsiagaan desa rawan bencana
Kesimpulan
Di Kabupaten Garut, kebakaran hutan paling berisiko terjadi pada bulan Agustus, sementara banjir dan longsor mencapai puncaknya pada bulan Januari. Dengan pendekatan algoritma dan kalkulus sederhana, pola ini dapat diprediksi secara ilmiah dan digunakan sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana terpadu.
Pendekatan berbasis data dan perhitungan ini menegaskan bahwa pencegahan jauh lebih efektif daripada penanggulangan, serta menjadi kunci dalam membangun ketahanan wilayah Garut terhadap bencana alam. (Red)
