![]()
Oleh: Forum Pemerhati Lingkungan Garut
(Tedi Sutardi, Medialibas. Com, _27 Februari 2026)

Pendahuluan
Kabupaten Garut merupakan wilayah dengan karakter alam yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Topografi pegunungan curam, curah hujan tinggi, serta dominasi daerah aliran sungai pendek menjadikan wilayah ini secara alami memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Dalam kondisi ekosistem hutan yang stabil, risiko tersebut masih dapat dikendalikan. Namun, ketika tutupan hutan berkurang dan tata kelola ruang tidak terkendali, potensi bencana meningkat secara eksponensial.

Analisis ini disusun menggunakan pendekatan matematis sederhana, kalkulus risiko lingkungan, serta model ekonomi kerugian bencana berbasis data geografis Kabupaten Garut.
Parameter Dasar Perhitungan
- Luas wilayah: ± 306.519 hektar
- Kawasan hutan tersisa: ± 73.000 hektar
- Wilayah lereng curam (>15%): ± 65% wilayah
- Curah hujan rata-rata: 3.000 mm/tahun
- Penduduk: ± 2,7 juta jiwa
- Desa rawan longsor & banjir: ± 180 desa
Model Perhitungan Risiko
Risiko bencana dihitung dengan fungsi:
Risk = (Kemiringan Lereng × Curah Hujan) ÷ Tutupan Hutan
Ketika tutupan hutan turun, risiko meningkat tidak linear tetapi mendekati kurva eksponensial.
Simulasi menunjukkan:
- Penurunan hutan 10% → kenaikan potensi longsor ±40–70%.
- Limpasan air meningkat hingga 4–6 kali lipat dibanding kawasan berhutan.
Estimasi Potensi Korban per Tahun
Berdasarkan pola kejadian bencana hidrometeorologi wilayah pegunungan:
Prediksi tahunan (kondisi degradasi berlanjut):
- Korban meninggal: 35 – 70 jiwa/tahun
- Luka berat & ringan: 250 – 600 orang/tahun
- Pengungsi sementara: 8.000 – 20.000 orang/tahun
- Rumah rusak ringan–berat: 1.200 – 2.500 unit/tahun
Mayoritas korban berasal dari:
- permukiman lereng,
- bantaran sungai,
- kawasan bekas pembukaan hutan.
Perhitungan Kerugian Ekonomi
Kerugian dihitung dari empat komponen utama:
- Kerusakan Infrastruktur
- Jalan desa & kabupaten
- jembatan
- irigasi
Estimasi:
Rp 250 – 400 miliar/tahun
- Kerugian Pertanian
Erosi tanah menurunkan produktivitas 10–25%.
Estimasi kehilangan:
Rp 300 – 500 miliar/tahun
- Kerusakan Permukiman
Perbaikan rumah dan relokasi warga.
Estimasi:
Rp 150 – 250 miliar/tahun
- Dampak Ekonomi Tidak Langsung
- kehilangan hari kerja
- penurunan wisata alam
- gangguan distribusi pangan
Estimasi:
Rp 200 – 350 miliar/tahun
TOTAL ESTIMASI KERUGIAN
Rp 900 miliar – Rp 1,5 triliun per tahun
Nilai ini jauh lebih besar dibanding keuntungan ekonomi jangka pendek dari pembukaan lahan dan eksploitasi sumber daya alam.
Analisis Kalkulus Ekologi
Dalam model ekonomi lingkungan:
Ekonomi Bersih = Keuntungan Eksploitasi − Kerugian Bencana²
Artinya, semakin tinggi risiko ekologis, kerugian meningkat secara kuadrat. Pada titik tertentu, pertumbuhan ekonomi berubah menjadi kerugian permanen masyarakat.
Dampak Sosial Jangka Panjang
Jika tren kerusakan berlanjut:
- 5 tahun: bencana musiman menjadi normal.
- 10 tahun: produktivitas pertanian menurun permanen.
- 15 tahun: migrasi ekonomi akibat rusaknya lahan.
- 20 tahun: kemiskinan ekologis struktural.
Pernyataan Sikap
Forum Pemerhati Lingkungan Garut menilai bahwa persoalan lingkungan bukan lagi sekadar isu konservasi, melainkan persoalan keselamatan publik dan keberlanjutan ekonomi daerah.
Tanpa pemulihan hutan, pengendalian tata ruang, serta penegakan hukum lingkungan yang konsisten, Kabupaten Garut berpotensi menghadapi krisis bencana berulang dengan biaya sosial dan ekonomi yang terus meningkat setiap tahun.
Penutup
Lingkungan bukan sekadar ruang eksploitasi, tetapi sistem penyangga kehidupan. Ketika hutan hilang di wilayah pegunungan dengan hujan ekstrem seperti Garut, maka bencana bukan lagi kemungkinan — melainkan kepastian yang hanya menunggu waktu. (Red)
