![]()
Analisis Advokasi Kebijakan Berbasis Data dan Indikator Wilayah
Oleh: Forum Pemerhati Lingkungan Garut Medialibas. Com (14 Februari 2026 )

Abstrak
Kabupaten Garut merupakan wilayah strategis sekaligus rentan secara ekologis di Jawa Barat. Dengan jumlah penduduk mencapai ±2,79 juta jiwa pada 2024, pertumbuhan penduduk, tekanan ekonomi, serta perubahan tata ruang memperbesar risiko bencana lingkungan di kawasan pegunungan dengan curah hujan tinggi. Artikel advokasi ini menyajikan gambaran ilmiah profil wilayah Garut berbasis indikator demografi, sosial-ekonomi, dan lingkungan sebagai dasar rekomendasi kebijakan pembangunan yang lebih hati-hati dan berorientasi keberlanjutan.
Kajian menunjukkan bahwa pembangunan yang tidak berbasis daya dukung lingkungan berpotensi memperburuk kemiskinan, kerentanan bencana, serta menurunkan kesejahteraan masyarakat.
- Karakter Geografis: Wilayah Pegunungan Berisiko Tinggi
Kabupaten Garut memiliki bentang alam dominan pegunungan vulkanik, lereng curam, dan daerah tangkapan air utama di selatan Jawa Barat. Struktur geomorfologi ini menyebabkan wilayah Garut memiliki:
Kerentanan longsor tinggi
Risiko banjir bandang di daerah hilir
Erosi dan degradasi tanah cepat
Sensitivitas tinggi terhadap perubahan tutupan lahan
Dalam perspektif ekologis, wilayah seperti ini tidak cocok untuk ekspansi pembangunan tanpa kajian daya dukung lingkungan yang ketat.
- Indikator Demografi: Tekanan Penduduk Terhadap Ruang
Data terbaru menunjukkan:
Jumlah penduduk Garut: ±2,79 juta jiwa (2024)
Usia produktif mencapai 64,02% atau sekitar 1,79 juta jiwa
Pertumbuhan penduduk rata-rata 1,25% per tahun
Implikasi ilmiah:
Pertumbuhan penduduk tanpa perencanaan ruang berbasis ekologi akan meningkatkan:
alih fungsi lahan pertanian,
pembukaan lereng pegunungan,
tekanan terhadap kawasan resapan air.
Fenomena ini merupakan faktor pemicu utama bencana ekologis di wilayah pegunungan tropis.
- Indikator Sosial-Ekonomi: Kerentanan Struktural
Profil sosial ekonomi Garut menunjukkan tantangan serius:
Penduduk miskin sekitar 259.300 jiwa (9,68%)
Pekerja informal mencapai 72,13% tenaga kerja
Tingkat pengangguran sekitar 6,96%
Hanya 34,61% rumah tangga tinggal di rumah layak huni
Analisis akademik menunjukkan bahwa wilayah dengan dominasi sektor informal memiliki daya tahan ekonomi rendah terhadap bencana. Artinya:
Kerusakan lingkungan langsung bertransformasi menjadi krisis sosial.
Ketika banjir atau longsor terjadi, kelompok ekonomi rentan menjadi korban utama.
- Struktur Ekonomi dan Risiko Ekologis
Ekonomi Garut bertumpu pada:
pertanian,
peternakan,
pariwisata alam,
industri skala kecil.
Namun pembangunan industri dan permukiman di kawasan lereng tanpa kontrol ekologis berpotensi menyebabkan:
hilangnya fungsi resapan air,
sedimentasi sungai,
penurunan produktivitas pertanian,
konflik ruang antara ekonomi dan konservasi.
Secara ilmiah, kondisi ini disebut ecological overshoot regional, yaitu ketika aktivitas manusia melampaui kapasitas alam.
- Paradoks Pembangunan Garut
Garut menghadapi paradoks pembangunan:
Potensi Risiko
Tanah subur Longsor tinggi
Curah hujan besar Banjir & erosi
Wisata alam Degradasi ekosistem
Penduduk produktif besar Tekanan ruang & pengangguran
Tanpa kebijakan berbasis risiko ekologis, pembangunan justru mempercepat kerentanan wilayah.
- Analisis Kebijakan: Mengapa Harus Sangat Hati-Hati
Forum Pemerhati Lingkungan Garut menegaskan bahwa keputusan pembangunan di wilayah pegunungan tidak dapat disamakan dengan wilayah dataran rendah atau kawasan industri.
Kesalahan kebijakan yang berpotensi fatal:
- Perizinan industri di kawasan resapan air
- Alih fungsi hutan dan lahan miring
- Pembangunan permukiman di zona rawan longsor
- Minimnya ruang terbuka hijau dan konservasi DAS
Dalam ilmu kebijakan lingkungan, dampak keputusan ruang bersifat irreversible — kerusakan ekosistem sering tidak dapat dipulihkan dalam waktu generasi manusia.
- Rekomendasi Advokasi Kebijakan
A. Pendekatan Ilmiah Tata Ruang
Wajib berbasis peta risiko bencana.
Moratorium pembangunan di lereng kritis.
B. Reformasi Perizinan
Audit lingkungan independen.
Transparansi dokumen AMDAL.
C. Ekonomi Hijau Garut
Pertanian konservasi lereng.
Eco-tourism berbasis masyarakat.
Restorasi hutan rakyat.
D. Perlindungan Sosial Ekologis
Prioritas rumah layak huni.
Infrastruktur adaptif bencana.
- Kesimpulan Advokatif
Kabupaten Garut bukan sekadar wilayah pembangunan — melainkan ekosistem pegunungan hidup yang menentukan keselamatan masyarakatnya sendiri.
Data demografi, kemiskinan, dan kualitas permukiman menunjukkan bahwa masyarakat Garut sudah berada dalam kondisi rentan. Jika kebijakan pembangunan tidak dilakukan secara hati-hati, maka:
kerusakan lingkungan akan berubah menjadi krisis kesejahteraan.
Forum Pemerhati Lingkungan Garut menyerukan agar setiap keputusan pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi menjadikan keselamatan ekologis sebagai fondasi utama kebijakan daerah. (Red)
