![]()
Oleh: Dody Satya Ekagustdiman

Bandung, Medialibas. Com, – Program makan bergizi di Jepang dan Jerman menunjukkan bahwa pemenuhan nutrisi anak bukan sekadar urusan dapur, melainkan bagian penting dari strategi pembangunan manusia. Hingga Januari 2026, kedua negara ini masih menjadi rujukan global dalam penyelenggaraan nutrisi sekolah karena konsistensi, kualitas, dan dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan generasi muda.
Jepang: Kyushoku dan Shokuiku sebagai Pendidikan Kehidupan
Di Jepang, program makan siang sekolah dikenal dengan sistem Kyushoku, yang terintegrasi langsung dengan Shokuiku atau pendidikan pangan. Program ini bersifat wajib dan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan nasional.
Secara filosofis, Shokuiku tidak hanya bertujuan memberi makan, tetapi membentuk kesadaran siswa tentang asal-usul makanan, cara penyajian, etika makan, serta rasa tanggung jawab. Setiap sekolah diwajibkan memiliki ahli gizi berlisensi yang menyusun menu seimbang dengan standar kalori sekitar 500–800 kalori per porsi.

Menu harian umumnya mencakup karbohidrat (nasi atau roti), protein (ikan, daging, atau tahu), sup seperti miso, sayuran musiman, serta susu. Makanan dimasak segar setiap hari dari bahan utuh (whole food), bukan makanan beku atau olahan pabrik.
Uniknya, siswa dilibatkan secara aktif melalui sistem Toban, yaitu giliran menyajikan makanan dan membersihkan kelas setelah makan. Praktik ini menanamkan nilai kemandirian, disiplin, dan kebersamaan sejak dini.
Pada kebijakan terbaru 2026, mulai April, Pemerintah Jepang berencana menggratiskan makan siang bagi seluruh siswa sekolah dasar secara nasional. Kebijakan ini memperkuat posisi Kyushoku sebagai fondasi kesejahteraan anak—sebuah pendekatan yang sejalan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan di Indonesia.
Jerman: Standar Gizi Ketat dengan Sistem Fleksibel
Berbeda dengan Jepang, Jerman menekankan standar kualitas gizi melalui pedoman Deutsche Gesellschaft für Ernährung (DGE) atau Perhimpunan Nutrisi Jerman. Fokus utamanya adalah keseimbangan nutrisi, pengurangan konsumsi daging merah, serta peningkatan asupan sayur dan pangan sehat.
Dalam sistem penyediaan, banyak sekolah di Jerman menggunakan jasa katering eksternal atau dapur pusat, meskipun tren dapur masak langsung di sekolah terus meningkat demi menjaga kesegaran gizi. Ahli gizi umumnya berada di tingkat penyedia layanan, bukan di setiap sekolah.
Program makan di Jerman bersifat subsidi. Orang tua membayar sebagian biaya, sementara pemerintah menanggung penuh biaya bagi keluarga berpendapatan rendah guna menjamin keadilan akses nutrisi. Selain itu, terdapat dorongan kuat penggunaan bahan lokal dan organik (bio) untuk mendukung kesehatan sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Perbandingan Ringkas (Update 2026)
Integrasi Kurikulum
Jepang: sangat kuat melalui Shokuiku
Jerman: fokus pada penyediaan gizi
Petugas Khusus
Jepang: ahli gizi wajib di setiap sekolah
Jerman: ahli gizi di tingkat penyedia
Metode Memasak
Jepang: dimasak segar di sekolah
Jerman: kombinasi katering dan dapur sekolah
Status Biaya
Jepang: transisi menuju gratis total
Jerman: subsidi berbasis pendapatan keluarga
Menariknya, pada awal 2026, delegasi dari berbagai negara—termasuk perwakilan Kamar Dagang Jepang (JCCI)—melakukan studi banding ke Indonesia untuk mengamati pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan secara masif.
Pelajaran Penting untuk Indonesia
Pengalaman Jepang dan Jerman memberikan pelajaran berharga, antara lain:
Edukasi Gizi (Shokuiku): Integrasi pendidikan gizi ke dalam kurikulum agar anak memahami makna makanan sehat.
Keterlibatan Siswa: Melibatkan siswa dalam penyajian dan kebersihan sebagai pembentukan karakter.
Keamanan Pangan dan Standar Gizi: Keterlibatan ahli gizi profesional untuk menjamin kualitas dan keamanan makanan.
Pada akhirnya, program makan sekolah di Jepang dan Jerman membuktikan bahwa nutrisi bukan hanya soal kenyang, tetapi investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang sehat, mandiri, dan berkarakter.
Sekian dan terima kasih.
Salam Sehat, Bahagia, Senang, Selamat, Gembira…
Bandung, 26 Januari 2026
Dody Satya Ekagustdiman
Alumni ASTI / STSI / ISBI Bandung (red)
