![]()

Garut, Media libas. Com, — Warga Kampung lembur kaler , Desa Harumansari, Kecamatan Kadungora, dikejutkan dengan fenomena pergeseran tanah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Retakan tanah mulai terlihat di beberapa titik, bahkan sebagian lahan warga mengalami penurunan dan pergeseran yang cukup mengkhawatirkan.
Berdasarkan indikasi awal, kejadian ini diduga kuat berkaitan dengan alih fungsi lahan di wilayah tersebut. Area yang berada pada elevasi ±680 meter di atas permukaan laut dengan tingkat kemiringan sekitar 20 persen tergolong rentan jika tidak dikelola dengan baik. Perubahan fungsi dari lahan vegetatif (seperti hutan atau kebun campuran) menjadi lahan terbuka atau pertanian intensif dapat mengurangi daya ikat tanah terhadap air dan gravitasi.
Sejumlah warga menyebutkan bahwa sebelumnya wilayah tersebut memiliki tutupan vegetasi yang cukup baik. Namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi pembukaan lahan yang cukup masif, yang diduga mempercepat terjadinya pergerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi.
Analisis Singkat
Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan:
Kemiringan 20% → termasuk kategori lereng sedang yang rawan longsor jika tanah tidak stabil
Elevasi 680 mdpl → umumnya daerah resapan air dan penyangga ekosistem
Alih fungsi lahan → mengurangi akar tanaman yang berfungsi mengikat tanah
Curah hujan tinggi → meningkatkan tekanan air dalam tanah (soil saturation)
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka potensi longsor besar atau kerusakan infrastruktur bisa terjadi.
Solusi yang Direkomendasikan
- Rehabilitasi Lahan
Penanaman kembali pohon berakar kuat (seperti vetiver, sengon, atau bambu)
Penerapan sistem agroforestry (campuran pohon dan tanaman pangan)
- Rekayasa Teknis
Pembuatan terasering untuk mengurangi kecepatan aliran air
Drainase lereng untuk mengontrol air dalam tanah
Pemasangan bronjong atau penahan tanah di titik rawan
- Pengendalian Tata Ruang
Peninjauan ulang izin alih fungsi lahan
Penetapan zona rawan longsor sebagai kawasan lindung terbatas
- Sistem Peringatan Dini
Pemasangan alat sederhana pemantau retakan tanah
Pelaporan cepat oleh warga jika terjadi perubahan kondisi tanah
Edukasi untuk Masyarakat (Gaya Komunitas)
“Tanah Bergerak, Alam Sedang Memberi Tanda”
Tanah bukan sekadar tempat berpijak. Ia hidup, menyimpan air, dan menjaga keseimbangan. Ketika pohon ditebang dan lahan dibuka tanpa kendali, tanah kehilangan pegangan.
Retakan bukan hanya garis di bumi—itu adalah peringatan.
Yang perlu kita pahami bersama:
Lereng bukan tempat sembarangan dibuka
Air hujan bukan musuh, tapi bisa jadi bencana jika tidak ditahan
Akar pohon adalah “penjaga” yang sering kita abaikan
Langkah sederhana yang bisa dilakukan warga:
Menanam pohon di sekitar lahan
Tidak membuat saluran air langsung jatuh ke lereng
Melaporkan retakan sekecil apa pun
Menghindari pembangunan di zona rawan
Penutup
Peristiwa di Kampung Ciharuman menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam tidak bisa diabaikan. Pembangunan tanpa perhitungan hanya akan memindahkan risiko ke masa depan.
Menjaga tanah hari ini, berarti menyelamatkan kehidupan esok hari. (Red)
