![]()

Garut, Medialibas. Com, — Meningkatnya curah hujan, kondisi topografi pegunungan dengan lereng terjal, karakteristik tanah yang labil, aktivitas kegempaan, serta perubahan tata guna lahan menjadikan Kabupaten Garut sebagai salah satu wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam. Kondisi ini menjadi perhatian serius Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa dalam mendorong penguatan edukasi lingkungan dan mitigasi kebencanaan di tengah masyarakat. 4 Mei 2026
Ketua LIBAS, Tedi Sutardi, menyampaikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana merupakan bagian penting dalam upaya melindungi keselamatan jiwa, lingkungan, dan keberlanjutan wilayah. Menurutnya, mitigasi bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga teknis, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Bencana alam sering datang tanpa pemberitahuan, tetapi tanda-tandanya sebenarnya dapat dikenali. Karena itu masyarakat perlu memahami kondisi lingkungan tempat tinggalnya, mengenali potensi risiko, dan mengetahui langkah penyelamatan sejak dini,” ujar Tedi Sutardi.
LIBAS menjelaskan bahwa ada beberapa indikator penting yang perlu dipahami masyarakat di wilayah rawan bencana, di antaranya:
- Curah hujan tinggi
Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko longsor, banjir, dan pergerakan tanah, terutama di daerah perbukitan. - Retakan tanah dan perubahan struktur lereng
Munculnya retakan pada tanah, jalan, dinding rumah, atau pohon yang mulai miring dapat menjadi tanda awal pergerakan tanah. - Berkurangnya kawasan resapan air
Alih fungsi hutan, kebun, dan daerah tangkapan air dapat mempercepat limpasan air permukaan yang memicu banjir bandang. - Aktivitas kegempaan
Wilayah Garut yang berada dekat zona aktif membutuhkan kewaspadaan lebih karena gempa dapat memicu longsor dan retakan tanah.
Melalui edukasi ini, LIBAS mengajak masyarakat Garut untuk mulai melakukan langkah sederhana namun penting, seperti menjaga vegetasi di lereng, tidak membuang sampah ke saluran air, melaporkan tanda-tanda pergerakan tanah, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga kebencanaan.
“Menjaga lingkungan bukan hanya soal alam, tetapi juga soal menjaga kehidupan, keluarga, dan masa depan bersama. Semakin tinggi pengetahuan masyarakat, semakin kuat pula ketahanan daerah menghadapi bencana,” tutup Tedi Sutardi. (Red)
